Habbasyifa Plus Ekstract Bidara

Habbasyifa Plus Ekstract Bidara

Habbasyifa Plus Ekstract Bidara
kini telah hadir produk habbasyifa plus ekstract bidara dengan kemasan premium dan sudah berlabel BPOM dengan Nomer :

POM TR 113324281

sehingga bisa di pastikan sangat aman di konsumsi dan yang pastinya bermanfaat.

sebelumnya kita apa itu habbasyifa, dan apa itu bidara ? apa saja manfaatnya ? yuk kita cari tahu….

Habbatussauda yang di ekstrak = Habbasyifa

Sejatinya, habbatussauda adalah biji jintan hitam yang berasal dari tanaman berbunga tahunan bernama Nigella sativa dari keluarga Ranunculaceae, tanaman asli Asia Selatan dan Asia Barat.

Di negara asalnya, jintan hitam sering digunakan sebagai bumbu penyedap dan pengawet alami untuk masakan India dan Timur Tengah. Jintan hitam memiliki rasa dan aroma khas pahit-pedas seperti kombinasi bawang merah, lada hitam, dan oregano.

Dalam Ash-Shohihain diriwayatkan hadist dari Ummu Salamah dari Abu Hurairah R.A, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaklah kalian mengkonsumsi Habbatus Sauda’ , karena didalamnya terdapat kesembuhan dari setiap penyakit, kecuali saam. Sedangkan saam artinya kematian.”

Imam Bukhori juga meriwayatkan hadist dari Aisyah R.A bahwasanya ia mendengar Nabi SAW bersabda;

” Sesungguhnya Habbatus Sauda’ ini merupakan obat bagi setiap penyakit, kecuali saam. Aku bertanya, “Apakah saam itu?”. Beliau menjawab, “Kematian.”

Dalam riwayat Muslim:

“Tidak ada suatu penyakit, kecuali penyembuhannya ada didalam Habbatus Sauda.”

Nabi SAW mengabarkan bahwa Habbatus Sauda berkhasiat menyembuhkan setiap penyakit. Kata syifa’ (kesembuhan) dalam seluruh hadist disebut tanpa dima’rifahkan dengan alif dan lam. Semuanya dalam struktur positif, sehingga dengan demikian kata tersebut bersifat nakiroh (indefinite, tidak spesifik) yang biasanya bermakna umum. Selanjutnya, kita bisa mengatakan bahwa dalam Habbatus Sauda’ terdapat potensi penyembuhan terhadap setiap penyakit.

Bidara ?

Bidara (Ziziphus mauritiana), atau Bahasa Arabnya “sidr” adalah sejenis pohon buah yang dibicarakan dalam al-Qur’an dan hadits. Dalam tradisi pengobatan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam (Tibbun Nabawi), ia salah satu yang biasa digunakan untuk merukyah (Pengusiran Pengaruh Sihir).

Ayat-ayat al-Qur’an yang menyebut bidara di antaranya surat Saba’:16 dan al-Waqiah: 28. Sedangkan dalam hadits, di antaranya:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Asma’ radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tentang cara mandi usai haid. Beliau menjelaskan, “Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dan sidrah (daun bidara), kemudian bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian menuangkan air ke kepalanya lalu menggosok-gosoknya dengan kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke seluruh badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dengannya.” (Hr. Muslim).

Tanaman bidara diperkirakan berasal dari kawasan Asia Tengah. Ia berkembang biak secara alami maupun dengan campur tangan manusia hingga kemudian bisa ditemukan di berbagai penjuru dunia, termasuk Malaysia, Indonesia, bahkan Australia.

Sejumlah negara tercatat sebagai pembudidaya pohon ini dalam skala besar. Di antaranya adalah India dan China. Di Indonesia pun kini sudah ada yang membudidayakannya, namun masih sangat sedikit. Menurut praktisi, pembenihan bidara tidaklah mudah. Kegagalan sering terjadi pada tahap menjadi lembaga.

Bentuk fisik tanaman bidara adalah berupa pohon berakar tunggang yang dapat tumbuh hingga setinggi 15 m.

Kulit kayunya berwarna cokelat kemerahan atau keabuan. Dan kayunya kemerahan, kuning kecokelatan, sampai cokelat gelap. Tekstur kayunya halus, bersifat keras dan tahan lama. Karena itu, di sejumlah daerah kayu bidara dijadikan bahan kerajinan, perabot rumah tangga, konstruksi bangunan, mebel, peti pengemas, dan kayu lapis.

Orang Bali biasa menjadikannya gagang kapak, pisau, pahat, dan perkakas pertukangan dan pertanian lainnya. Selain itu, ia termasuk berkualitas tinggi bila dijadikan kayu bakar dan arang. Di India, pohon bidara dijadikan media budidaya kutu lak (sejenis serangga). Ranting-ranting yang sudah terbungkus kotoran kutu lak dipanen untuk diolah menjadi sirlak. Sirlak adalah salah satu komponen peracikan politur (pewarna kayu dalam kerajinan mebel).

Kesimpulan :

Bahwa Habbatussauda dan Bidara adalah Tanaman yang dianjurkan dalam agama (Islam), maka sudah seharusnya kita memaksimalkan potensi tanaman yang dianjurkan rasul dalam pengobatan.
Semua itu ada dalam Habir (Habbasyifa Plus Ekstrack Bidara) yang berkomposisi :
  1. Habbatussauda
  2. Ekstract Bidara